Current Issue

Vol. 17 No. 1 (Oktober) (2020)
					View Vol. 17 No. 1 (Oktober) (2020)

Pembaca budiman, Limen edisi ini akan menyajikan empat naskah berturut-turut dari khasanah teologi, misiologi, antropologi, dan pastoral.
Pertama, Fransiskus Guna menulis artikel dengan judul Yang Sakral sebagai Yang Riil. Menurutnya, yang sakral adalah salah satu kategori Eliade yang paling mendasar sekaligus bermasalah untuk memahami dan menjelaskan fenomena dan sejarah agama. Masalah ini bersifat mendasar karena bagi yang sakral hampir semua kategori lainnya dijelaskan. Hal itu bermasalah bahkan kontrovesial dalam kaitan dengan gagasan Eliade tentang alam dan status sakral. Dalam studinya tentang yang sakral, Eliade masuk ke cara berpikir dualistik dan memperlakukan yang sakral sebagai yang nyata sementara yang profan sebagai yang ilusif. Pengandaian Eliade tentang yang sakral dan profan itu bermasalah karena sulit untuk menentukan apakah ia mengklaim objek yang termasuk dalam bidang profan benar-benar ada atau tidak. Karena kesulitan tersebut, diperlukan penjelasan Lonergan tentang yang sakral dan yang profan sebagai cara untuk mengatasi masalah tersebut.
Dalam artikel kedua yang berjudul Tempat Tribal Groups dalam Gereja Lokal Papua, Glen Lewandowski mengkaji tentang tribal groups di Papua dapat ditinjau dari segi sosial-budaya, ekonomi pembangunan, politik dan kebijakan afirmatif. Artikel ini akan menelisiknya dari sudut eklesiologis Gereja lokal Papua yang diuraikan dengan pendekatan teologi pada Gereja partikular dari sudut misiologi dan evangelisasi. Artikel ini juga menengahkan tujuan pengembangan Gereja partikular sebagai visi dan misi pada rencana pastoral-misioner. Tujuannya mengasah daya timbang agar Gereja lokal semakin sungguh-sungguh menempatkan diri secara tepat dalam menghadapi tantangan kebudayaan lokal yang ada, guna menempa suatu ‘pedoman arah’ yang tepat bagi Gereja setempat.
Sesudah Konsili Vatikan II, para Wali Gereja Provinsi Gerejawi Papua, mencoba membenahi lembaga pendidikan calon pelayan Gereja lokal Papua dengan program pendidikan yang lebih sesuai dengankonteks sosial-budaya Gereja Papua. Lewandowski dengan jeli memikirkan dampak perubahan sosial-budaya itu bagi tribal groups di Papua.
Di artikel berikutnya, Mitos Naruekul: Asal-Usul Orang Balim dan Asal-Mula Perang di Lembah Balim, Albertus Heriyanto menulis tentang asal-mula perang tradisional antarkelompok yang tampaknya sangat berpengaruh terhadap sistem kepercayaan orang Balim. Sejarah konflik komunal di Lembah Balim tidak lepas dari mitos asal-usul orang Balim, terutama kisah pembunuhan Naruekul. Kisah Naruekul boleh dikatakan sebagai mitos sentral dalam sistem kepercayaan orang Balim. Mitos tersebut berfungsi sebagai sumber inspirasi ideologis tentang berbagai hal yang penting dan mendasar seperti asal-usul orang Balim dan asal-usul berbagai tata kehidupan adat. Lebih dari itu, mitos Naruekul ternyata juga kadang dijadikan salah satu rujukan mitis (ideologis) untuk menjelaskan asal-usul terjadinya konflik dan pembunuhan antarindividu maupun asal-usul perang antarkelompok.
Dalam artikel keempat, Budi Nahiba dan Albertus Heriyanto menulis tentang Gerakan Tungku Api Kehidupan: Pemberdayaan Masyarakat Kamoro di Kampung Otakwa. Dalam artikel tersebut penulis menganalisis implementasi Gerakan Tungku Api Kehidupan. Penulis mencatat bahwa latar belakang kehidupan sosial ekonomi masyarakat Kamoro-Sempan di Kampung Otakwa adalah peramu. Masyarakat hingga kini sangat bergantung pada sumber daya alam yang melimpah dan bernilai jual tinggi di Kota Timika. Namun, karena akses transportasi sungai ke Timika sering terhalang oleh sedimentasi tailing PT. Freeport Indonesia, masyarakat mengalami kesulitan dalam memasarkan hasil alamnya ke Timika. Masalah transportasi itu juga mengakibatkan mahalnya harga sembilan bahan pokok di Kampung Otakwa.
Pada dasarnya, masyarakat sangat antusias dengan program-program ekonomi dalam Gerakan Tungku Api Kehidupan, yang dirasa penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir Mimika. Catatan penulis, para pendamping dalam gerakan tersebut perlu memerhatikan aspek antropologi dan sosiologi masyarakat Kamoro-Sempan agar program pemberdayaan dan pengembangan ekonomi masyarakat itu selaras dengan budaya masyarakat lokal.
Selamat membaca.

Published: 2021-04-17
View All Issues

Limen Jurnal ilmiah Agama dan Kebudayaan Sekolah Tinggi Filsafat Telogi Fajar Timur yang terbit dua kali setahun (April dan Oktober)

Limen (Latin: ambang batas gawang pintu, garis batas) merupakan kata dasar liminal yang dalam antropologi merujuk pada saat peralihan dalam perjalanan hidup manusia, baik yang berkait dengan tahap-tahap perkembangan kedewasaan, kedudukan sosial, maupun berbagai peralihan lain yang menyentuh hidup secara mendalam.

Limen mengajak Anda berdiri di ambang, melintasi batas, serta memasuki tahap-tahap baru kehidupan dan mendapatkan pencerahan