Bakti Sosial STFT Fajar Timur bagi Korban Banjir Bandang di Sentani

Puluhan Mahasiswa STFT “ Fajar Timur” Menjadi Relawan Korban Banjir Bandang Doyo-Sentani
SENTANI- selang beberapa hari setelah bencana banjir bandang menimpa masyarakat di Sentani dan setelah melihat situasi dan rumah warga yang tertimbun pasir dan lumpur, puluhan mahasiswa STFT Fajar Timur turun langsung ketempat kejadian peristiwa untuk turut ambil bagian dalam membantu korban banjir bandang di Doyo, wilayah yang paling parah menderita banjir bandang. Hari pertama tanggal 22 Maret 2019, kegiatan kuliah dihentikan dan seluruh civitas berpartisipasi dalam menyumbangkan tenaganya sebagai bentuk solidaritas terhadap masyarakat. Mahasiswa dari tingkat 1 sampai dengan Pasca Serjana, pegawai dan para dosen turun ke lapangan untuk ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Kami bekerja dari pagi sampai malam. Namun apa yang kami kerjakan tidak selesai sehingga kami mencari hari lain untuk menuntaskan pekerjaan kami. Mengingat pada pagi hari kami harus kuliah, kami mencari waktu di siang hari setelah makan siang. Setiap jam 14 mahasiswa sudah berkumpul di kampus. Di sana mobil yang mengangkut kami sudah stand by. Mobil yang disumbangkan untuk mengangkut mahasiswa adalah mobil kampus, mobil seminari, mobil Sang Surya, mobil OSA Kasisiakum dan beberapa mobil lain yang didatangkan oleh P. Emus, kordinator lapangan, dari alumni, Bp. Edo Kaize. Setelah mahasiswanya terkumpul kami langsung menuju ke rumah-rumah korban di Doyo.
Titik tempat kami bekerja ada dua yaitu rumah-rumah di jalan masuk pasar Doyo (belakang jalan Polres) dan beberapa rumah di jalan Sosial Sentani. Kami bekerja kurang lebih selama satu minggu hingga rumah warga bersih seperti semula. Masyarakat dimana kami bekerja sangat bersyukur karena kami bisa membantu mereka. Sebelumnya mereka kelihatan sangat putus asa apa, tidak tahu harus berbuat apa dengan keadaan rumah yang ditimbuni lumpur dan pasir setinggi 50 – 100 cm. Kami bahkan mendengar pengakuan dari masyarakat setempat, “kami tidak ingin tinnggal lagi di tempat ini dan ingin pindah ketempat lain karena tidak sanggup lagi bekerja”. Namun dengan kehadiran kami mereka sangat terbantu. Kami tidak membantu dengan memberikan sesuatu yang lebih, selain tenaga yang kami miliki . Hanya dengan itu kami ingin membantu masyarakat.
Masyarakat (korban banjir) berharap agar pemerintah bisa membantu dengan mendatangkan alat berat. Memang di tempat rumah korban sudah ada beberapa alat berat tetapi nampak bahwa alat berat itu tidak bisa membantu membersihkan rumah, selain mengangkat pasir yang tebal di jalan, dimana ada lorong-lorong untuk mobil dan motor lewat. Sedangkan pasir, tanah dan lumpur yang masuk didalam rumah, baik itu kamar tidur, ruang tamu maupun di dapur, tidak tahu siapa yang bisa bekerja. Melihat pasir, tanah dan lumpur yang masuk di dalam rumah saja, masyarakat sudah merasa malas. Malas bukan karena tidak mau bekerja tetapi jika masing-masing orang bekerja itu hal itu akan sangat melelahkan.
Kami, mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura, secara langsung turun ketempat kejadian, membantu membersihkan rumah korban banjir bandang selama kurang lebih satu minggu. Dengan jumlah mahasiswa seratus orang lebih dalam satu minggu saja kami hanya baru menyelesaikan beberapa rumah saja. Kalau mereka masing-masing membersihkannya pasti akan sangat melelahkan mereka.

mengeluarkan lumpur dari rumah korban Doyo

Selain beberapa rumah yang telah kami bersihkan, masih terdapat banyak rumah yang masih untuh dengan pasir dan lumpur dan belum dikerjakan. Semoga dengan tulisan ini, ada yang tergerak hati untuk membantu saudara-saudari kita yang sedang menderita akibat musibah banjir bandang tersebut. Mereka kehilangan segala-galanya. Harta benda, orang yang mereka sayangi dan rumah yang mereka tinggal. Saya rasa kita bisa membantu mereka dengan cara kita masing-masing, memberi mereka bantuan pakaian, makanan dan lain sebagainya. Namun masyarakat sampai saat ini belum semuanya kembali ke rumah mereka masing-masing karena rumah mereka yang hancur tertimpa banjir bandang. Alasan lain ada yang belum bisa kembali karena rumah mereka masih belum dibersihkan dari timbunan pasir, tanah dan lumpur. Ini yang membuat masyarakat masih belum nyaman dengan tempat tinggal mereka.


Oleh: Vincent Laka