About the Journal

Limen, Jurnal Agama dan Kebudayaan                                Online ISSN 2963-8097

Limen, Jurnal Agama dan Kebudayaan   is published twice a year (April and October) by Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur

Limen (Latin word means: limen or threshold; Indonesian: ambang batas gawang pintu, garis batas) refers to the term ‘liminal’ in anthropology that indicates the moments of life transition regarding phases of human being development to maturity, its social roles and degrees, or other transitions that impact their life deeply.

Limen invites you to be on the threshold and to go beyond the border, to come into a new phase of your life, and to get new enlightenment.

Journal title

: Limen: Jurnal Agama dan Kebudayaan

Initials

: Lim

 

Abbreviation

: Limen

Frequency

2 Issues every year 

DOI

: Prefix : 10.61792 

ISSN (print)

ISSN (online)

: 2963-8097

Editor in Chief

: Dr. Ignasius Ngari.

Managing Editor

: Dr. Ignasius Ngari.

Publisher

: Sekolah Tinggi Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur Jayapura 

Indexing

: Google Scholar | PKP Index Base 

Journal Summary

Every submitted manuscript will be reviewed by at least two peer-reviewers using double double-blind review method. Abstracts and full text that have been published on the website can be read and downloaded for free. Limen: Jurnal Filsafat dan Kebudayaan  is managed by Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur. This journal registered in the Crossref system with Digital Object Identifier (DOI) 10.61792. For authors interested in submitting the manuscript, kindly register yourself.

.

Current Issue

Vol. 20 No. 2/April (2024)
					View Vol. 20 No. 2/April (2024)

Pembaca budiman, Limen edisi ini menyajikan lima naskah dengan beberapa perspektif yakni tinjauan teologis (fundamental dan pastoral), filsafati, hukum Gereja dan antropologis. 

Artikel pertama, ditulis oleh Ignasius Ngari merupakan penyelidikan terhadap filsafat kebebasan sebagaimana ditulis oleh Dr. Nico Dister. Analisis ini menyelami seluk-beluk filosofis dari konten, elemen gaya, dan pendekatan metodologis yang digunakan dalam menjelaskan filsafat kebebasan. Penyelidikan ini mengamati baik kekuatan maupun kelemahan yang melekat dalam karya yang diperiksa dibandingkan dengan analisis serupa dalam ranah filosofi terkait. Temuan dari analisis ini menekankan kedalaman, komprehensif, dan sifat kritis dari konseptualisasi kebebasan oleh Dister. Dalam penelitiannya, Ngari mengangkat tantangan yang muncul dari determinisme teologis, fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan dan disimpulkan bahwa filsafat kebebasan dari Dister kurang merangkum dinamika rumit dari determinisme dalam ranah psikologi, dan mengabaikan dampak dari rezim digital yang berkembang terhadap konsep kebebasan. Namun, karya ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap diskursus filosofis tentang kebebasan, menawarkan wawasan berharga tentang sifat multifasetnya dan tantangannya.

Artikel kedua, karya Fransiskus Guna mengangkat tema Imago Dei. Konsep ini merujuk pada konsep dalam teologi Judeo-Kristen bahwa manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Allah, seperti yang diceritakan dalam kitab Kejadian 1:26-27, yang menyatakan, "Lalu Allah berfirman, 'Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita'... Maka Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya; menurut gambar Allah, Ia menciptakan mereka; laki-laki dan perempuan, Ia menciptakan mereka." Thomas Aquinas, membahas konsep Imago Dei dengan merujuk pada tradisi teologi Kristen, dan memberikan wawasan tentang apa artinya bagi manusia untuk diciptakan dalam gambar Allah. Ia percaya bahwa manusia mencerminkan gambar Allah melalui rasionalitas dan kemampuan untuk berpikir, serta melalui kapasitas untuk memilih yang baik dan menjalankan peran moralnya. Ajaran Aquinas ini tampaknya mengandung tantangan untuk didiskusikan secara kritis. Aquinas hanya memperhatikan aspek intelektual dan spiritual dari pribadi manusia. Ia agak mengabaikan dimensi fisik sehingga timbul pertanyaan, apakah ia menggambarkan pribadi manusia secara menyeluruh sebagai gambar Allah.

Dalam artikel ketiga, Marthinus Selitubun mengulas Redemptionis Sacramentum, sebuah dokumen yang dikeluarkan oleh Kongregasi untuk Ibadah Ilahi dan Tata Tertib Sakramen pada tahun 2004. Dokumen ini memiliki implikasi mendalam bagi baik klerus maupun awam dalam perayaan Ekaristi. Selitubun menyelidiki dampak dan menyelami pemahaman yang lebih dalam tentang misteri Ekaristi. Penemuan yang menarik adalah bahwa Redemptionis Sacramentum bertujuan untuk menumbuhkan rasa hormat dan kekaguman yang lebih besar terhadap Ekaristi di antara umat beriman, sehingga memperkaya pengalaman spiritual mereka dan memperkuat iman mereka. Melalui analisis terhadap dokumen ini, penulis mempertegas implikasinya bagi baik klerus maupun awam, menyoroti perannya dalam mempromosikan perayaan Ekaristi yang lebih hormat dan bermakna di dalam Gereja Katolik.

Dalam karya tulis berikutnya, Yoseph Selvinus Agut menyajikan tema teologis pastoral tentang cara hidup Gereja dengan judul "Gereja Orang Miskin." Agut,menekankan bahwa Gereja harus mengakui kehadirannya dan misi profetisnya untuk keselamatan semua orang, terutama yang miskin dan terpinggirkan, sebagai suatu keharusan dari Injil. Inilah keaslian dan relevansi kehidupan Gereja yang berani terlibat dengan isu-isu kemiskinan dan kebaikan bersama untuk mendorong persekutuan di antara para percaya dalam Kristus. Melaluinya Gereja demikian mewujudkan semangat sinodalitas, yang sepenuhnya terwujud ketika ia berjalan berdampingan dengan yang terpinggirkan. Agut kemudian mengusulkan desain pastoral yang bertujuan untuk mewujudkan semangat ini.

Di artikel kelima, Hana Rori menyatakan bahwa ketegangan antara klan-klan memiliki dampak pada semua sektor di kota Wamena. Akar masalah historis dari kekerasan yang belum terpecahkan tertanam dan berkembang menjadi identitas masyarakat Papua. Rori hendak mengukur hubungan sosial masyarakat di kota Wamena antara suku-suku dan terhadap imigran. Untuk mencapai hal itu, tulisan ini menggunakan metode campuran antara teori Identitas Sosial, wawancara dan skala Likert. Sementara interpretasi data bersifat kualitatif. Penelitian ini menemukan bahwa lebih dari setengah merasa "sangat senang" bersosialisasi lintas suku. Ini membuktikan keterbukaan masyarakat lokal terhadap pendatang baru. Walupun demikian, kebanyakan responden mengakui bahwa identitas mereka sebagai orang Papua adalah “sangat penting. Kesimpulan ini ditarik dari pokok-pokok yang diukur antara lain peran penting Gereja, negativitas terhadap kelompok lain; preferensi pada sistem kepercayaan, pemerintah, favoritisme terhadap kelompok luar, serta identifikasi identitas diri dengan komunitas.

Published: 2025-03-24
View All Issues

Limen, Jurnal Agama dan Kebudayaan                                Online ISSN 2963-8097

Limen, Jurnal Agama dan Kebudayaan   is published twice a year (April and October) by Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur

Limen (Latin word means: limen or threshold; Indonesian: ambang batas gawang pintu, garis batas) refers to the term ‘liminal’ in anthropology to indicate the moments of life transition regarding phases of human being development to its maturity, its social roles and degrees, or other transitions that impact their life deeply.

Limen invites you to be in threshold and to go beyond the border, and to come in the new phase of your life and to get the new enlightenment.